1. Beranda
  2.  / 
  3. Blog
  4.  / 
  5. Apa yang Membuat Aljazair Terkenal?
Apa yang Membuat Aljazair Terkenal?

Apa yang Membuat Aljazair Terkenal?

Aljazair terkenal karena Gurun Sahara, Kasbah Algir, reruntuhan Romawi kuno, Perang Kemerdekaan Aljazair, musik raï, couscous, minyak dan gas alam, sepak bola, warisan budaya Amazigh, serta posisinya sebagai negara terbesar di Afrika. Citranya di mata dunia internasional tidak sepoles Maroko atau Mesir dari sisi pariwisata, namun secara historis dan geografis, Aljazair adalah salah satu negara terpenting di Afrika Utara. Britannica menggambarkan Aljazair sebagai negara terbesar di Afrika dan terbesar ke-10 di dunia, dengan wilayah utara yang berbatasan dengan Laut Mediterania dan pedalaman Sahara yang sangat luas.

1. Gurun Sahara

Sekitar empat perlima wilayah Aljazair adalah bagian dari Gurun Sahara, yang menjadikan gurun ini sebagai inti geografi negara tersebut, bukan sekadar sudut pemandangan yang jauh. Kontrasnya sangat mencolok: sabuk utara yang sempit dan lebih padat penduduknya bertransisi menjadi dataran tinggi, hamparan garam, dataran berbatu, lautan pasir, oasis, pegunungan vulkanik, serta jarak-jarak yang sangat jauh dengan pemukiman yang makin langka. Skala inilah yang membedakan Sahara di Aljazair dari jalur gurun yang lebih komersial di Maroko atau Tunisia — terasa bukan seperti perjalanan singkat, melainkan seperti bagian yang mendefinisikan negara itu sendiri.

Seorang nomad Tuareg menuntun unta melewati kawasan Tassili n’Ajjer di Gurun Sahara Aljazair

2. Algir dan Kasbah

Dari arah laut, Algir tampak bertingkat-tingkat berwarna putih: Laut Mediterania di bagian bawah, boulevard era Prancis di dekat tepi pantai, dan Kasbah yang menjulang curam di atasnya. Kawasan tua ini dimasukkan ke dalam Daftar Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1992 dan melestarikan salah satu bentuk perkotaan paling khas di Afrika Utara — sebuah medina di lereng bukit dengan lorong-lorong sempit, rumah-rumah yang padat, masjid, kediaman era Utsmaniyah, serta sisa-sisa struktur pertahanan yang lebih tua. Lokasinya adalah bagian dari kekuatannya: Kasbah tidak tersembunyi di pedalaman, melainkan dibangun langsung di atas salah satu kota pelabuhan terbesar di Mediterania, tempat sejarah Aljazair, Utsmaniyah, kolonial, dan modern saling tumpang tindih dalam satu pemandangan.

Kawasan ini juga menyimpan bobot politik yang menjadikannya lebih dari sekadar landmark arsitektur. Selama perjuangan kemerdekaan Aljazair, Kasbah menjadi sangat erat kaitannya dengan perlawanan perkotaan dan kenangan Pertempuran Algir 1956–1957. Sejarah itu memberi makna yang lebih tajam pada kota tua ini dibanding sekadar kawasan wisata yang terawat: tangga, atap, halaman dalam, dan gang-gang padatnya terikat pada gagasan tentang komunitas, tekanan, kerahasiaan, kelangsungan hidup, dan memori nasional.

3. Perang Kemerdekaan Aljazair

Pada 1 November 1954, Front de Libération Nationale melancarkan pemberontakan yang menjadi awal perang kemerdekaan Aljazair setelah lebih dari satu abad penjajahan Prancis. Konflik ini berlangsung hampir delapan tahun, berakhir dengan Perjanjian Évian pada Maret 1962 dan kemerdekaan resmi Aljazair pada 5 Juli 1962. Peristiwa ini menjadi salah satu perjuangan anti-kolonial terbesar pada abad ke-20, tidak hanya karena lamanya dan intensitasnya, tetapi karena memaksa Prancis untuk menghadapi runtuhnya imperium mereka sekaligus memberi Aljazair sebuah narasi nasional yang dibangun di atas perlawanan dan kedaulatan. Sejarah ini masih membentuk Aljazair lebih dalam dibanding hampir semua monumen atau lanskap mana pun. Nama jalan, museum, upacara publik, sejarah di sekolah, bahasa politik, dan memori nasional semuanya selalu kembali pada gagasan pembebasan setelah 132 tahun penjajahan.

Para prajurit Tentara Pembebasan Nasional (ALN) mengibarkan bendera selama Perang Kemerdekaan Aljazair pada tahun 1958
Zdravko Pečar, CC BY-SA 4.0 https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0, via Wikimedia Commons

4. Reruntuhan Romawi: Timgad, Djémila, dan Tipasa

Jauh sebelum Aljazair dikaitkan dengan sejarah Arab, Utsmaniyah, Prancis, atau Afrika Utara modern, sebagian wilayahnya sudah sangat erat terhubung dengan dunia Romawi. Timgad, yang didirikan pada masa Kaisar Trajan pada tahun 100 M, adalah salah satu contoh paling jelas: jalan-jalannya dirancang dalam kisi-kisi yang ketat, dengan cardo dan decumanus yang bersilangan layaknya model buku teks perencanaan kota Romawi. Bahkan hari ini, pengunjung masih bisa menelusuri logika kota tersebut melalui forum, teater, pemandian, sisa perpustakaan, kuil, area pasar, dan Gerbang Trajan.

Djémila dan Tipasa memperlihatkan dua versi berbeda dari warisan klasik yang sama. Djémila, yang dahulunya bernama Cuicul, dibangun di lingkungan pegunungan, di mana perencanaan Romawi harus menyesuaikan diri dengan medan yang tidak rata, menghasilkan kota berundak dengan jalan, kuil, basilika, rumah, dan mosaik yang dikelilingi perbukitan. Tipasa, di tepi pantai Mediterania sebelah barat Algir, menambahkan unsur laut ke dalam cerita ini: reruntuhan di sana mempertemukan akar Fenisia, kehidupan kota Romawi, bangunan Kristen awal, jejak Bizantium, dan lapisan Afrika Utara lokal. Bersama-sama, ketiga situs yang masuk dalam daftar UNESCO ini membuktikan bahwa Aljazair seharusnya dipandang sebagai salah satu destinasi sejarah klasik utama di Afrika Utara — kurang dipromosikan secara internasional dibanding Italia atau Tunisia, namun kaya akan kota-kota Romawi, arkeologi pesisir, mosaik, prasasti, dan lanskap di mana dunia Mediterania kuno masih terlihat dengan jelas.

5. Tassili n’Ajjer dan seni cadas prasejarah

Di ujung tenggara Aljazair, Tassili n’Ajjer mengubah Gurun Sahara menjadi arsip terbuka kehidupan prasejarah. Dataran tinggi batu pasir yang sangat luas ini dimasukkan ke dalam Daftar Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1982 dan dikenal memiliki lebih dari 15.000 lukisan dan ukiran batu. Gambar-gambar tersebut menunjukkan bahwa bagian Sahara ini tidak selalu menjadi dunia gersang seperti yang dilihat pengunjung saat ini: sapi, hewan liar, pemburu, penggembala, penari, dan sosok manusia muncul di bebatuan, menyimpan jejak lanskap dan komunitas yang berubah seiring iklim yang semakin kering.

Lukisan gua Tanzoumaitak, yang terletak di Taman Nasional Tassili n’Ajjer dekat Djanet, Aljazair
IssamBarhoumi, CC BY-SA 4.0 https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0, via Wikimedia Commons

6. Lembah M’Zab

Sekitar 600 kilometer di selatan Algir, Lembah M’Zab memperlihatkan bagaimana arsitektur bisa menjadi sistem kelangsungan hidup. Di lanskap Sahara utara ini, komunitas Ibadite mendirikan sekelompok kota berbenteng sejak abad ke-10, yang kini dilindungi sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Lima ksour bersejarah — Ghardaïa, Beni Isguen, Melika, Bounoura, dan El Atteuf — dibangun dengan rumah-rumah yang padat, dinding pertahanan, jalan-jalan sempit, dan masjid yang ditempatkan di titik tertinggi. Bentuknya yang pucat dan geometris terlihat sederhana, namun tata letaknya dirancang dengan cermat untuk menghadapi panas, keterbatasan air, tatanan sosial, dan kehidupan bersama.

Yang membuat lembah ini luar biasa adalah kedisiplinannya. Alih-alih reruntuhan monumental atau dekorasi imperial, M’Zab menawarkan model perencanaan kota gurun: gang-gang teduh, perumahan padat, kebun kurma, sumur, saluran irigasi, pasar, dan aturan ketat tentang penggunaan ruang. Kota-kota ini dirancang untuk melindungi manusia sekaligus sumber daya, mengubah lingkungan yang keras menjadi habitat yang terkendali dan sangat terorganisir.

7. Musik Raï

Lahir di Aljazair bagian barat dan sangat erat kaitannya dengan Oran, raï memberi negara ini salah satu suara modern paling khas yang dikenali dunia. Akarnya berasal dari puisi rakyat lokal, tradisi lagu Badui, kehidupan malam perkotaan, dan dunia sosial Aljazair abad ke-20 yang terus berubah. Pada akhir 1970-an dan 1980-an, raï telah bergerak dari panggung pertunjukan lokal ke dalam kaset, klub, radio, dan komunitas migran di Prancis, di mana perpaduan lirik berbahasa Arab, dialek Aljazair, instrumen elektrik, synthesizer, dan tema emosional yang lugas membantu musik ini menjangkau khalayak yang lebih luas. UNESCO menambahkan raï ke dalam daftar warisan budaya tak benda pada tahun 2022, mengakuinya sebagai bagian penting dari budaya musik hidup Aljazair.

Penyanyi legendaris Aljazair Khaled (dikenal luas dengan nama panggungnya yang terdahulu, Cheb Khaled), yang diakui secara internasional sebagai “Raja Raï”
Magharebia, CC BY 2.0 https://creativecommons.org/licenses/by/2.0, via Wikimedia Commons

8. Minyak dan Gas Alam

Berdasarkan perkiraan tahun 2024, negara ini menduduki peringkat sebagai produsen gas alam terbesar di Afrika dan produsen bahan bakar cair terbesar kedua di benua tersebut, menjadikan hidrokarbon memiliki peran yang jauh melampaui industri biasa. Ladang-ladang minyak utama, jaringan pipa, pabrik gas alam cair, terminal ekspor, dan zona produksi gurun menjadikan minyak dan gas sebagai inti keuangan negara, infrastruktur, serta hubungan luar negeri Aljazair. Sonatrach berada di pusat sistem ini. Didirikan pada tahun 1963, perusahaan energi milik negara ini kini beroperasi di bidang eksplorasi, produksi, transportasi pipa, pencairan, pengilangan, petrokimia, dan pemasaran, dengan lebih dari 150 anak perusahaan dan lebih dari 200.000 karyawan yang tercantum dalam profil resminya. Gas Aljazair juga memberi negara ini arti penting tersendiri bagi Eropa: jalur pipa seperti Medgaz ke Spanyol dan TransMed ke Italia, bersama ekspor gas alam cair, menjadikan Aljazair pemasok utama di kawasan Mediterania.

9. Couscous dan Masakan Aljazair

Couscous adalah salah satu makanan sehari-hari terpenting di Aljazair, namun juga merupakan bagian dari tradisi Maghreb yang lebih luas yang juga dimiliki oleh Maroko, Tunisia, dan Mauritania. Di Aljazair, couscous hadir dalam banyak variasi regional: dengan daging domba atau ayam, sayuran, kacang Arab, kismis, mentega fermentasi, saus pedas, atau bahan-bahan musiman tergantung daerahnya. UNESCO mengakui pengetahuan dan praktik yang berkaitan dengan couscous sebagai warisan budaya tak benda bersama pada tahun 2020, yang mencerminkan betapa dalamnya hidangan ini terikat dengan makan bersama keluarga, perayaan, keramahan, dan ritme memasak mingguan di seluruh Afrika Utara.

Masakan Aljazair layak mendapat perhatian lebih dari yang biasanya diterimanya di tingkat internasional. Makanan di negara ini berubah secara signifikan dari pesisir ke dataran tinggi hingga Sahara: chorba dan brik umum ditemukan di meja makan saat Ramadan, rechta sangat erat kaitannya dengan Algir, chakhchoukha diasosiasikan dengan wilayah timur dan pedalaman, makroud mencerminkan pentingnya semolina, kurma, dan madu, sementara daging panggang, dolma, semur, roti pipih, kue-kue pastri, dan berbagai variasi couscous menunjukkan bagaimana bahan-bahan lokal membentuk pola makan sehari-hari.

Rechta — hidangan mi tradisional Aljazair yang sangat populer dan digemari
ABBASHouda, CC BY-SA 4.0 https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0, via Wikimedia Commons

10. Identitas Amazigh dan Arab

Identitas Aljazair dibentuk oleh beberapa dunia sekaligus: warisan Amazigh yang bersifat pribumi, budaya Arab-Islam, sejarah Mediterania, jalur-jalur Sahara, pemerintahan Utsmaniyah, dan pengalaman kolonial Prancis. Bahasa Arab dan Amazigh keduanya merupakan bahasa resmi saat ini, sementara Islam tetap menjadi inti kehidupan publik dan budaya nasional. Hal ini menjadikan Aljazair lebih berlapis dibanding sekadar label “negara Arab” yang sederhana. Di bagian utara, komunitas Kabyle dan Chaoui mempertahankan identitas regional yang kuat; di Lembah M’Zab, budaya Mozabite memiliki tradisi arsitektur dan sosialnya sendiri; di jauh selatan, warisan Tuareg menghubungkan Aljazair dengan Sahara yang lebih luas.

11. Sepak Bola

Sepak bola Aljazair menyimpan sebagian kenangan modern paling emosional di negara ini. Pada tahun 1982, di Piala Dunia FIFA pertama mereka, Aljazair mengejutkan Jerman Barat dengan skor 2–1 di Spanyol — sebuah hasil yang masih dikenang sebagai salah satu kejutan terbesar dalam sejarah turnamen. Tim nasional kemudian mencapai babak terbaik mereka di Piala Dunia pada tahun 2014, ketika mereka lolos ke Babak 16 Besar di Brasil dan memaksa Jerman bermain perpanjangan waktu sebelum kalah 2–1. Kedua pertandingan itu ibarat dua sisi dalam memori sepak bola Aljazair: yang pertama memperkenalkan tim ini kepada dunia, yang kedua membuktikan bahwa Aljazair mampu bersaing secara serius di panggung terbesar.

Aljazair di Piala Dunia FIFA 2010 di Afrika Selatan
Nathan Gibbs, CC BY-NC-SA 2.0

12. Pantai Mediterania

Di bagian utara, Aljazair menghadap Laut Mediterania sepanjang sekitar 1.200 kilometer, memberi negara ini identitas pesisir yang mudah terlupakan ketika orang hanya berfokus pada Sahara. Sabuk utara yang sempit ini menampung banyak kota terbesar dan pelabuhan terpenting Aljazair, termasuk Algir, Oran, Annaba, Bejaia, Skikda, dan Mostaganem. Pantai ini selalu menarik Aljazair ke dalam dunia Mediterania yang lebih luas. Pedagang Fenisia, kota-kota Romawi, pemerintahan Bizantium, periode Arab dan Utsmaniyah, kontak Eropa, perencanaan kota kolonial Prancis, dan pelayaran modern semuanya meninggalkan jejak di sepanjang pantai ini. Tipasa melestarikan reruntuhan pesisir kuno, Algir memperlihatkan ibu kota berlapis yang menjulang di atas pelabuhan, Oran telah lama menjadi salah satu kota pelabuhan terbesar di negara ini, dan Bejaia menghubungkan pemandangan laut dengan budaya pegunungan Kabyle.

13. Kurma dan Budaya Oasis Sahara

Di Sahara Aljazair, sebuah oasis bukan sekadar setitik hijau di tengah gurun; ia adalah sebuah sistem yang dibangun di sekitar air, pohon kurma, naungan, dan pemukiman. Pohon kurma adalah inti dari sistem tersebut, terutama di kawasan seperti Biskra, Oued Righ, Touat, Gourara, Tidikelt, Adrar, dan Béchar. Aljazair termasuk di antara produsen kurma terkemuka di dunia, dengan budidaya yang tersebar di 16 provinsi penghasil kurma, dan beberapa kajian mencatat ratusan varietas kurma bernama di oasis-oasis negara ini. Deglet Nour, yang sangat erat kaitannya dengan kawasan Tolga dan Biskra, adalah varietas ekspor yang paling dikenal, namun kehidupan oasis lokal bergantung pada jauh lebih banyak hal daripada satu jenis kurma terkenal saja.

Sebuah oasis di Gurun Sahara yang terletak di Aljazair

14. Skala Aljazair dan Daya Tarik Pariwisata yang Belum Banyak Dijelajahi

Besarnya wilayah Aljazair mengubah cara orang merasakan negara ini. Dengan luas sekitar 2,38 juta kilometer persegi, Aljazair adalah negara terbesar di Afrika, namun citra pariwisata internasionalnya jauh lebih kecil dibanding geografinya. Sebuah peta saja sudah bisa memuat pantai Mediterania, Pegunungan Tell Atlas, kota-kota Romawi, Algir era Utsmaniyah, kota-kota oasis Sahara, gunung-gunung vulkanik, seni cadas prasejarah, dan jalur gurun yang membentang selama berhari-hari. Negara ini juga memiliki tujuh Situs Warisan Dunia UNESCO, termasuk Kasbah Algir, Lembah M’Zab, Timgad, Djémila, Tipasa, Tassili n’Ajjer, dan Qal’a of Beni Hammad. Hal itu memberi Aljazair kepadatan warisan sejarah yang luar biasa tanpa tingkat kemasan pariwisata massal seperti yang ditemukan di Maroko, Mesir, atau Tunisia.

Kurangnya kemasan inilah yang justru menjadi bagian dari daya tarik Aljazair bagi wisatawan yang lebih berpengalaman. Pada tahun 2023, Aljazair menerima sekitar 3,3 juta wisatawan mancanegara, jauh di bawah angka 14,5 juta Maroko pada tahun yang sama, meskipun memiliki reruntuhan Romawi, kota-kota Mediterania, lanskap Sahara, arsitektur Islam, seni cadas, dan sejarah revolusi dalam skala yang sangat besar. Hasilnya adalah sebuah destinasi yang terasa kurang dipoles namun juga kurang bisa diprediksi: landmark-nya sering kali sangat berbobot, jaraknya sangat jauh, dan tempat-tempat paling terkenalnya tidak direduksi menjadi pengalaman kartu pos yang cepat.

Jika Anda telah terpesona oleh Aljazair seperti kami dan siap untuk berkunjung ke Aljazair — simak artikel kami tentang fakta-fakta menarik tentang Aljazair. Periksa juga apakah Anda memerlukan Surat Izin Mengemudi Internasional di Aljazair sebelum perjalanan Anda.

Daftar
Silakan ketik email Anda di kolom di bawah ini dan klik "Berlangganan"
Berlangganan dan dapatkan petunjuk lengkap tentang cara memperoleh dan menggunakan SIM Internasional, serta saran untuk pengemudi di luar negeri